Proyeksi Rupiah Pekan Depan Usai Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Solderpanas – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan kembali menghadapi tekanan serius di pekan mendatang. Sebagai catatan, mata uang Garuda menunjukkan tren pelemahan sepanjang pekan lalu, bahkan mencetak rekor terlemah, terseret oleh meningkatnya tensi geopolitik global dan serangkaian sentimen domestik yang menekan.

Advertisements

Mengacu pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah pada Senin (11/5/2024) ditutup pada level Rp 17.415 per dolar AS. Sehari setelahnya, mata uang domestik sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di angka Rp 17.514 per dolar AS, sebelum sedikit menguat menjadi Rp 17.496 per dolar AS pada Rabu (13/5/2024).

Sementara itu, di pasar spot, pergerakan rupiah cenderung fluktuatif namun dengan bias pelemahan yang jelas. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah yang awalnya berada di Rp 17.414 per dolar AS pada Senin (11/5/2024), terdepresiasi hingga menyentuh Rp 17.528 per dolar AS pada Selasa (12/5/2024). Meskipun sempat menguat tipis ke Rp 17.476 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5/2024), rupiah kembali melemah tajam ke level Rp 17.529 per dolar AS pada Kamis (14/5/2024), dan penutupan perdagangan Jumat (15/5/2024) semakin memperdalam pelemahan menjadi Rp 17.597 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah pada pekan ini merupakan hasil kombinasi kompleks dari faktor eksternal dan internal. Dinamika pasar global dan kondisi domestik saling berinteraksi menciptakan sentimen negatif terhadap nilai tukar.

Advertisements

Dari sisi eksternal, pasar global masih dibayangi oleh ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menilai respons Iran terhadap proposal perdamaian AS “tidak dapat diterima” telah memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan di kawasan Teluk. Situasi ini, menurut Ibrahim, berpotensi memperbesar risiko terganggunya distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah terdorong naik, kembali memicu kekhawatiran akan peningkatan inflasi global.

Selain faktor geopolitik yang memanas, pelaku pasar juga mencermati data inflasi AS yang masih menunjukkan angka tinggi. Ibrahim mengungkapkan bahwa harga konsumen AS pada April 2024 naik 0,6% secara bulanan, sementara inflasi tahunan mencapai 3,8%—level tertinggi sejak pertengahan 2023. “Inflasi inti juga berada di atas ekspektasi pasar,” imbuh Ibrahim pada Rabu (13/5/2024).

Kondisi inflasi yang persisten ini menyebabkan ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed, kembali menurun. Imbal hasil aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik, mendorong penguatan indeks dolar AS secara signifikan dan pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di tengah semua ini, pasar juga menaruh perhatian pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang membahas isu-isu krusial seperti perdagangan, Taiwan, dan konflik Iran, yang bisa membawa implikasi lebih lanjut bagi stabilitas global.

Di dalam negeri, sentimen terhadap rupiah cenderung beragam. Hasil Survei Konsumen BI pada April 2024 menunjukkan optimisme masyarakat masih terjaga dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik tipis menjadi 123,0 dari bulan sebelumnya 122,9.

Namun, pasar tetap menyoroti beberapa risiko domestik yang dapat menekan nilai tukar. Kekhawatiran ini mencakup pelemahan sektor manufaktur, ketidakpastian seputar kebijakan royalti tambang, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah di tengah tingginya belanja negara. Selain itu, komentar Presiden Prabowo Subianto yang menegur Gubernur Perry Warjiyo terkait pelemahan rupiah juga turut memengaruhi sentimen pasar. Pelaku pasar juga mencermati penurunan bobot Indonesia dalam indeks global MSCI, sebuah kondisi yang dikhawatirkan dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik.

Meskipun demikian, pemerintah menegaskan bahwa posisi utang Indonesia masih dalam batas aman. Hingga akhir Maret 2024, rasio utang pemerintah tercatat sebesar 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah batas aman 60% sesuai Undang-Undang Keuangan Negara. “Sejatinya jumlah utang pemerintah tersebut naik sebesar Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2023 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun,” kata Ibrahim, memberikan gambaran kenaikan nominal utang.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi aktif di pasar offshore melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF), intervensi langsung di pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Upaya ini menunjukkan komitmen BI dalam meredam gejolak. Ibrahim memproyeksikan, rupiah pada pekan depan akan bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni antara Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS, mengindikasikan potensi fluktuasi yang berkelanjutan.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan kembali menghadapi tekanan serius pekan depan setelah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada pekan lalu, ditutup di Rp 17.597 per dolar AS. Pelemahan ini didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik global antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan kenaikan inflasi. Selain itu, inflasi AS yang tinggi menyebabkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menurun, memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.

Di dalam negeri, sentimen beragam dengan optimisme konsumen yang terjaga, namun ada risiko dari pelemahan sektor manufaktur, kekhawatiran fiskal, dan potensi arus keluar modal asing akibat penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Pemerintah menegaskan posisi utang negara masih dalam batas aman. Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi aktif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Rupiah diproyeksikan akan bergerak dalam rentang Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS pada pekan mendatang.

Advertisements