Rupiah dekati Rp 18.000 per dolar AS, ini strategi kelas menengah bertahan

JAKARTANilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan signifikan, perlahan namun pasti mendekati level psikologis krusial Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Advertisements

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (26/5), rupiah di pasar spot dibuka melemah pada Rp 17.767 per dolar AS pukul 09.15 WIB. Penutupan perdagangan menunjukkan posisi yang lebih tertekan, yaitu Rp 17.796 per dolar AS, mencerminkan pelemahan sebesar 0,30% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.744 per dolar AS.

Kondisi pelemahuan rupiah kali ini dinilai cukup mengkhawatirkan karena terjadi menjelang libur nasional. Momen ini berpotensi membatasi ruang gerak Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi domestik, sehingga risiko tekanan terhadap mata uang Garuda bisa semakin membesar.

Menanggapi situasi yang penuh tantangan ini, Lead Financial Trainer & CEO QM Financial Initiator Quamma Foundation, Ligwina Poerwo Hananto, menekankan pentingnya masyarakat kelas menengah untuk segera memperkuat ketahanan finansial keluarga mereka. Menurut Ligwina, dampak terberat dari pelemahan rupiah sejatinya bukan hanya pada nilai tukar itu sendiri, melainkan pada gelombang inflasi yang mengikutinya.

Advertisements

Ketika inflasi merangkak naik, kebiasaan konsumsi masyarakat cenderung berubah drastis. Banyak keluarga mulai menahan pengeluaran besar dan membatasi pembelian yang tidak esensial akibat ketidakpastian ekonomi. “Keputusan finansial yang paling sering terjadi adalah menunda pembelian besar dan menahan diri dari investasi karena khawatir terjadi krisis,” ujar Ligwina kepada Kontan.co.id, Selasa (26/5/2026).

Ligwina merinci tiga strategi utama yang harus diterapkan masyarakat untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil di tengah pelemahan rupiah: meningkatkan penghasilan, menjaga pengeluaran, dan memperkuat dana darurat.

1. Meningkatkan Penghasilan

Dalam aspek penghasilan, ia menyoroti urgensi untuk mempertahankan pekerjaan yang ada dan terus-menerus meningkatkan kompetensi diri. “Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah tetap memiliki penghasilan,” tegasnya. Ligwina bahkan menyebut kemunculan istilah ‘job hugging’, sebuah upaya gigih untuk mempertahankan pekerjaan dan memastikan diri tetap relevan bagi perusahaan di tengah gejolak ekonomi yang tidak menentu.

2. Menjaga Pengeluaran

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih disiplin dalam mengelola pengeluaran. Ligwina menjelaskan bahwa inflasi kerap memaksa keluarga untuk merevisi pola konsumsi, termasuk memangkas pengeluaran tersier dan mencari produk alternatif yang lebih ekonomis. Untuk menjaga kesehatan keuangan, ia menyarankan penerapan rumus anggaran 1-2-3-4 yang terbukti efektif:

10%+20%+30%+40%=100%

Rincian alokasi ini mencakup minimal 10% dari penghasilan untuk tabungan dan investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan utang, dan 40% untuk kebutuhan rutin. “Ketika harga kebutuhan pokok naik, prioritas utama adalah memastikan kebutuhan rutin keluarga tetap terpenuhi tanpa mengganggu tabungan dan cicilan,” jelasnya.

3. Memperkuat Dana Darurat

Di tengah ancaman krisis dan tekanan ekonomi global, Ligwina menilai dana darurat merupakan instrumen terpenting bagi masyarakat kelas menengah. Pengalaman pahit pandemi Covid-19 telah membuktikan bahwa keluarga dengan dana darurat yang memadai lebih tangguh dalam menghadapi pemotongan gaji, kehilangan pekerjaan, maupun lonjakan harga kebutuhan pokok. “Cash is not just king. Cash is king kong,” imbuhnya, menegaskan betapa krusialnya likuiditas di masa sulit.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat mulai membangun dana darurat secara rutin melalui kebiasaan menabung dan investasi berkala, tanpa perlu menunggu krisis benar-benar terjadi.

Lebih lanjut, Ligwina mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur spekulasi saat rupiah melemah, terutama dengan ikut-ikutan membeli mata uang asing tanpa pemahaman yang memadai. Ia melihat banyak individu yang tergoda mencari keuntungan instan dari pergerakan kurs, padahal tidak memahami risiko dan mekanisme pasar yang kompleks. Ia menganalogikan, masyarakat jangan sampai menjadi “ekor bebek” yang mudah terseret arus dan kalah lebih dulu di tengah pusaran spekulan.

Untuk itu, keputusan finansial di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu sebaiknya tetap berfokus pada perlindungan keuangan keluarga, bukan pada pengejaran keuntungan sesaat yang sarat risiko. “Secara individu kita hanya bisa melakukan keputusan yang sifatnya personal,” pungkas Ligwina, menegaskan pentingnya otonomi dan perencanaan keuangan yang matang.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah menunjukkan tekanan signifikan, mendekati level Rp 18.000 per dolar AS dan ditutup melemah pada Rp 17.796 per dolar AS per 26 Mei. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu inflasi yang mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat, seperti menunda pembelian besar dan investasi. Situasi ini juga terjadi menjelang libur nasional, yang berpotensi membatasi intervensi Bank Indonesia.

Menanggapi tantangan ini, Lead Financial Trainer Ligwina Poerwo Hananto merekomendasikan tiga strategi utama bagi kelas menengah untuk memperkuat ketahanan finansial keluarga. Strategi tersebut meliputi meningkatkan penghasilan dengan mempertahankan pekerjaan, menjaga pengeluaran melalui disiplin dan rumus anggaran 1-2-3-4, serta memperkuat dana darurat sebagai instrumen krusial saat krisis. Masyarakat juga diingatkan untuk menghindari spekulasi mata uang asing tanpa pemahaman risiko dan fokus pada perlindungan keuangan pribadi.

Advertisements