Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.836 per Dolar AS Pagi Ini

Pada pembukaan perdagangan Jumat (29/5), nilai tukar rupiah menunjukkan sinyal positif dengan menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, di awal sesi akhir pekan ini, mata uang garuda sempat menguat 0,05% atau 9 poin, mencapai level Rp 17.836 per dolar AS. Namun, euforia penguatan tersebut tidak berlangsung lama, sebab pada pukul 09.15 WIB, rupiah berbalik arah melemah 0,10% atau 17 poin, bergerak ke posisi Rp 17.862 per dolar AS. Tren pelemahan ini melanjutkan performa hari sebelumnya, di mana rupiah ditutup di level Rp 17.846 per dolar AS, terkoreksi 0,25% dari Rp 17.801 per dolar AS.

Advertisements

Pasar kini mencermati potensi penguatan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, terutama setelah mata uang domestik sempat menyentuh rekor terburuk baru di level Rp 17.900 per dolar AS saat libur Idul Adha lalu. Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah. Koreksi tajam rupiah dalam perdagangan terakhir memang dipicu oleh kuatnya sentimen risk-off global, yang memuncak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan berujung pada penguatan signifikan dolar AS sebagai aset safe haven.

Baca juga:

  • Saham Grup Prajogo Bangkit, BREN dan CUAN Sentuh ARA Pagi Ini, TPIA-PTRO Lompat
  • Prabowo dan Macron Sepakat Serukan Perdamaian di Palestina, Lebanon, hingga Iran
  • Emiten Saratoga-Boy Thohir (EMAS) Mulai Eksplorasi Tambang Pani, Intip Targetnya

Menanggapi dinamika pasar, analis mata uang Lukman Leong memprediksi bahwa rupiah berpeluang untuk rebound pada perdagangan hari ini. Prospek penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar AS yang signifikan, terutama setelah adanya perkembangan positif dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Lukman menjelaskan kepada Katadata, Jumat (29/5), bahwa, “Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah, merespons laporan bahwa AS dan Iran sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata.”

Advertisements

Menurut Lukman, meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah secara langsung berdampak pada perbaikan sentimen pasar global. Hal ini lantas mengurangi daya tarik dan permintaan terhadap dolar AS yang selama ini menjadi pilihan utama sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian, sehingga memberikan ruang bagi mata uang berisiko seperti rupiah untuk menguat.

Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap dolar AS juga berasal dari ranah ekonomi makro. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, yang merupakan salah satu indikator inflasi kunci bagi Federal Reserve, tercatat lebih lemah dari perkiraan pasar. Angka inflasi PCE yang melambat ini memunculkan harapan baru di kalangan pelaku pasar bahwa tekanan inflasi AS mulai mereda. Kondisi ini secara tidak langsung membuka peluang bagi bank sentral AS, The Fed, untuk tidak kembali mengambil kebijakan agresif dalam menaikkan suku bunga acuannya. Lukman menambahkan, “Data inflasi PCE AS yang lebih lemah dari perkiraan juga menekan dolar.”

Meski prospek penguatan rupiah tampak terbuka, pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati perkembangan lanjutan negosiasi antara AS dan Iran. Selain itu, arah kebijakan suku bunga global, terutama keputusan The Fed, masih akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar keuangan secara keseluruhan. Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang relatif ketat, yakni antara Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis ke level Rp17.836 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (29/5) sebelum kembali melemah ke posisi Rp17.862 per dolar AS. Tren pelemahan ini dipengaruhi oleh sentimen risk-off global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Meski demikian, rupiah sempat mencatatkan rekor terburuknya di level Rp17.900 per dolar AS selama periode libur Idul Adha.

Analis memprediksi rupiah berpeluang mengalami rebound menyusul meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi ekonomi makro tersebut mengurangi tekanan terhadap mata uang domestik karena munculnya ekspektasi kebijakan suku bunga yang tidak lagi agresif dari The Fed. Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Advertisements