Solderpanas JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menembus level psikologis Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (5/5/2026). Gejolak geopolitik global yang memanas disebut-sebut menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Garuda.
Mengutip data Bloomberg, pada Selasa (5/5/2026) pukul 10.32 WIB, rupiah tercatat bergerak di level Rp 17.428 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,20% dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya, menegaskan adanya tekanan signifikan.
Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa pelemahan rupiah pagi ini merupakan respons terhadap dinamika geopolitik global yang kembali memanas. Situasi ini berpotensi besar untuk mengganggu stabilitas aktivitas ekonomi dan perdagangan internasional, menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan.
Salah satu titik ketegangan yang menjadi sorotan adalah di kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dilaporkan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memulai upaya pembebasan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz. Pernyataan yang disampaikan Trump melalui Truth Social pada Minggu tersebut menegaskan bahwa langkah ini diambil demi kepentingan bersama, termasuk Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Selain itu, ketegangan juga meningkat di kawasan Eropa Timur. Ukraina melancarkan serangkaian serangan drone ke wilayah Rusia pada Minggu. Serangan ini menargetkan berbagai infrastruktur strategis, termasuk pelabuhan Primorsk di Laut Baltik yang dilaporkan terbakar, serta sejumlah kapal. Intensitas serangan terhadap infrastruktur energi dan target vital lainnya pun terpantau semakin meningkat.
Di tengah turbulensi global ini, kinerja perdagangan Indonesia sebenarnya masih menunjukkan ketahanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 berhasil mencatat surplus sebesar US$ 3,32 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan surplus pada Februari 2026 yang hanya sebesar US$ 1,27 miliar.
Kendati demikian, tekanan mulai terasa di sektor riil domestik. Aktivitas manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada April 2026, mengindikasikan adanya perlambatan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di level 49,1, yang merupakan titik terendah sejak Juli 2025.
“Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi,” jelas Ibrahim pada Selasa (5/5/2026). Ia menambahkan, kontraksi PMI ini disebabkan oleh penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 akibat berbagai faktor. Penurunan ini secara spesifik didorong oleh kontraksi berkelanjutan dalam volume produksi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah kembali melemah, menembus Rp 17.428 per dolar AS pada 5 Mei 2026, utamanya dipicu oleh gejolak geopolitik global yang memanas. Ketegangan di Timur Tengah, dengan pernyataan AS terkait Selat Hormuz, serta peningkatan serangan drone Ukraina ke Rusia, menciptakan ketidakpastian yang mengganggu stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional.
Di tengah kondisi tersebut, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan ketahanan dengan surplus US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Namun, sektor manufaktur domestik mengalami kontraksi pertama sejak Juli 2025, dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) anjlok ke 49,1 pada April 2026 akibat penurunan berkelanjutan dalam volume produksi.
