Ketua Panitia Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, I Putu Winastra, mengungkapkan adanya pergeseran target pasar yang signifikan pada pameran perjalanan wisata tahun ini. Menindaklanjuti arahan dari Gubernur Bali dan juga kementerian, BBTF 2026 kini lebih fokus membidik negara-negara terdekat, alih-alih pasar jarak jauh. Langkah strategis ini ditempuh untuk mengoptimalkan potensi pasar yang lebih realistis dan mudah dijangkau.
Pergeseran strategi ini berdampak langsung pada profil peserta yang memadati BBTF 2026. Jika sebelumnya pameran ini identik dengan kehadiran pelaku perjalanan wisata dari Eropa, kini dominasi terlihat dari kawasan Asia Tenggara, Asia, dan Afrika. Dari sisi partisipasi, jumlah buyers atau operator wisata mencapai 407, menunjukkan antusiasme yang tinggi dari pasar yang dituju.
Para buyers ini berasal dari 44 negara berbeda, sementara 286 sellers atau penjual paket wisata turut meramaikan ajang ini, mayoritas berasal dari Indonesia dan tiga negara lainnya. Angka partisipasi ini bahkan melampaui ekspektasi awal, di mana target buyers ditetapkan sebanyak 400 operator tur dan sellers sebanyak 250 eksibitor. Ini menjadi indikator positif bagi industri pariwisata di tengah tantangan global.
Winastra menilai lonjakan jumlah peserta ini sebagai kebanggaan di tengah dinamika geopolitik global yang sempat memicu pesimisme di kalangan pelaku usaha pariwisata. Namun, meskipun berhasil melampaui target partisipasi, ia mengakui akan sulit untuk melampaui target nilai transaksi. Hal ini disebabkan perbedaan signifikan dalam pola dan daya beli antara pasar Asia dengan Eropa.
Lebih lanjut, Winastra menjelaskan bahwa kehadiran operator tur dari pasar Asia tidak dapat disamakan dengan potensi transaksi yang dihasilkan oleh pasar jarak jauh. Kondisi ini membuat proyeksi nilai transaksi yang akan terjadi kemungkinan besar berada di bawah ekspektasi awal yang telah ditetapkan.
Awalnya, para pelaku perjalanan wisata berharap dapat melampaui capaian BBTF 2025 yang mencapai Rp7,84 triliun. Namun, dengan adanya pergeseran target pasar, harapan tersebut kini realistisnya bergeser ke angka Rp6,8 triliun. Penyesuaian ini mencerminkan adaptasi terhadap karakteristik pasar yang baru.
Winastra menegaskan bahwa setelah kalkulasi ulang berdasarkan profil operator tur yang hadir, terjadi penurunan potensi transaksi sekitar 12 persen dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, target transaksi pariwisata untuk tahun ini disesuaikan menjadi Rp6,8 triliun. Penurunan ini memang merupakan konsekuensi langsung dari diversifikasi pasar yang berbeda dari sebelumnya.
Perbedaan fundamental antara wisatawan jarak jauh dan jarak dekat juga terlihat pada durasi lama tinggal. BBTF 2026, yang diselenggarakan di Bali International Convention Center dari 28 hingga 30 Mei, menyoroti bahwa wisatawan dari negara terdekat cenderung memiliki masa tinggal yang tidak lebih dari satu minggu. Sebaliknya, wisatawan dari negara-negara jauh umumnya menghabiskan waktu lebih lama, sekitar 2-3 minggu, yang secara langsung memengaruhi total pengeluaran mereka.
Guna mengoptimalkan potensi yang ada dan menstimulasi transaksi, momentum melemahnya rupiah terhadap dolar AS turut dimanfaatkan. Para sellers dari Indonesia didorong untuk menjual paket perjalanan dalam mata uang asing. Strategi ini diharapkan dapat membuat produk mereka terasa lebih murah dan menarik bagi para pembeli, sekaligus memberikan nilai tambah dalam ekonomi pariwisata nasional.
Ringkasan
Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 mengubah strategi target pasarnya dengan fokus membidik negara-negara terdekat seperti Asia Tenggara, Asia, dan Afrika, mengikuti arahan pemerintah. Pergeseran ini menarik partisipasi tinggi dari 407 operator wisata dari 44 negara dan 286 penjual, melampaui ekspektasi awal. Hal ini menunjukkan optimalisasi potensi pasar yang lebih realistis dan mudah dijangkau.
Meskipun jumlah peserta melampaui target, panitia mengakui sulit melampaui nilai transaksi BBTF 2025 karena perbedaan pola dan daya beli wisatawan dari pasar Asia. Oleh karena itu, target transaksi pariwisata disesuaikan menjadi Rp6,8 triliun, turun sekitar 12 persen dari tahun sebelumnya. Untuk mengoptimalkan potensi di tengah melemahnya rupiah, penjual didorong untuk menggunakan mata uang asing agar paket terasa lebih menarik.
