Solderpanas – JAKARTA. Pasar kripto diproyeksikan akan menunjukkan pergerakan yang dinamis dan kompleks sepanjang Mei 2026. Dinamika ini akan dipengaruhi secara signifikan oleh konvergensi sentimen makroekonomi global, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat (AS), serta sejumlah agenda krusial dalam ekosistem aset digital itu sendiri.
Menurut pandangan Arief Rachman, Market Specialist Luno Indonesia, para investor kripto perlu mencermati dengan saksama berbagai peristiwa utama yang berpotensi memicu fluktuasi signifikan di pasar sepanjang bulan ini.
Arief Rachman mencatat bahwa Bitcoin berhasil menutup April 2026 dengan performa yang relatif solid. Setelah dibuka di kisaran US$ 71.000 – US$ 72.000, aset kripto utama ini sempat menunjukkan penguatan signifikan hingga mencapai US$ 78.000, sebelum akhirnya ditutup di sekitar US$ 77.000 pada akhir bulan tersebut. Performa impresif ini berlanjut, dengan data terbaru menunjukkan bahwa pada Kamis (7/5/2026) pukul 13.30 WIB, Bitcoin telah diperdagangkan di level US$ 80.978, mencatatkan kenaikan sebesar 7,1% dalam satu pekan.
Kinerja ini, menurut Arief, terbilang “cukup baik dibandingkan dengan pergerakan sempit yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya.” Ia menambahkan, meskipun konflik geopolitik di Iran masih menjadi pembatas sentimen pasar, kehadiran permintaan ETF kripto institusional telah bertindak sebagai “angin segar” yang mendorong optimisme. Namun demikian, Arief mengingatkan bahwa tensi geopolitik, terutama yang berkaitan dengan konflik Iran, tetap menjadi faktor krusial yang dapat membatasi sentimen pasar global, termasuk di dalamnya pasar aset kripto.
Beralih ke ranah makroekonomi, pasar global masih menanti kejelasan arah kebijakan dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). The Fed diketahui telah mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%-3,75% selama tiga pertemuan berturut-turut. Namun, sinyal penting muncul dari rapat terakhir, di mana empat anggota menyuarakan ketidaksetujuan. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan pandangan yang kian meningkat di antara para pembuat kebijakan terkait risiko inflasi dan prospek ekonomi Amerika Serikat.
Arief Rachman menyoroti bahwa serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang Mei akan menjadi fokus utama para investor. Salah satu yang paling dinanti adalah rilis data pengangguran AS pada 8 Mei 2026. Meskipun tingkat pengangguran sebelumnya tercatat turun menjadi 4,3%, Arief berpendapat bahwa kondisi pasar tenaga kerja belum sepenuhnya solid. Hal ini disebabkan oleh banyaknya tenaga kerja yang keluar dari partisipasi pasar kerja, di samping peningkatan angka pengangguran terselubung yang kini mencapai 8%.
Selain data ketenagakerjaan, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data inflasi AS, atau Consumer Price Index (CPI), yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. Data CPI sebelumnya tercatat sebesar 2,4% secara tahunan, angka ini masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Arief mengemukakan kekhawatiran pelaku pasar bahwa dampak kebijakan tarif perdagangan AS akan mulai tercermin pada data inflasi Mei. Jika laju inflasi tetap tinggi, peluang penurunan suku bunga acuan oleh The Fed berisiko kembali tertunda. “Sebaliknya,” tambah Arief, “jika inflasi menunjukkan tanda-tanda melandai, pasar berpotensi besar untuk kembali memasuki fase risk-on yang telah lama diantisipasi oleh investor.”
Berpindah fokus ke sektor kripto, para investor juga memantau dengan seksama sejumlah agenda pengembangan jaringan blockchain yang signifikan. Salah satu yang paling menonjol adalah peningkatan (upgrade) SIMD-266 pada jaringan Solana, yang dijadwalkan akan terlaksana pada Mei 2026. Upgrade ini digadang-gadang mampu memangkas biaya data hingga 98% serta secara substansial meningkatkan kapasitas transaksi jaringan. Jika implementasinya berjalan sukses, hal ini dipandang dapat secara signifikan memperkuat daya tarik ekosistem Solana baik bagi para pengembang maupun pengguna aplikasi terdesentralisasi (DApps).
Tidak hanya Solana, jaringan Bitcoin Cash (BCH) juga akan menjalani upgrade besar bertajuk Layla pada 15 Mei 2026. Peningkatan Layla ini akan menghadirkan kemampuan smart contract ke dalam jaringan BCH, membuatnya semakin kompetitif dan setara dengan fungsionalitas yang ditawarkan oleh Ethereum dan Solana. Bagi pengguna, upgrade ini akan membuka peluang baru yang luas untuk pengembangan aplikasi Keuangan Terdesentralisasi (DeFi) dan uang terprogram yang dibangun di atas BCH. Arief menekankan, “Upgrade tersebut telah lama direncanakan, sehingga reaksi pasar akan berdampak besar pada harga. Maka investor bisa mencermati aktivitas developer dan minat spekulatif menjelang peluncuran,” sarannya.
Sebagai penutup agenda bulan Mei, para pelaku pasar kripto juga akan memperingati Bitcoin Pizza Day pada 22 Mei 2026. Momen ikonik ini menandai transaksi pertama Bitcoin di dunia nyata yang digunakan untuk membeli dua loyang pizza, sebuah peristiwa yang telah menjadi salah satu tanggal paling bersejarah dan dirayakan dalam komunitas kripto global.
Ringkasan
Pasar kripto diproyeksikan akan sangat dinamis di Mei 2026, dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi global, kebijakan Federal Reserve, dan agenda penting dalam ekosistem aset digital. Bitcoin menunjukkan performa solid dengan kenaikan signifikan hingga mencapai US$80.978 pada awal Mei, didorong oleh permintaan ETF institusional. Meskipun demikian, ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor krusial yang dapat membatasi sentimen pasar.
Investor perlu mencermati rilis data ekonomi AS seperti pengangguran dan inflasi (CPI) yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed. Di sisi kripto, terdapat sejumlah upgrade jaringan penting seperti SIMD-266 pada Solana untuk efisiensi biaya dan Layla pada Bitcoin Cash yang menambahkan kapabilitas smart contract. Bulan Mei juga akan memperingati Bitcoin Pizza Day pada tanggal 22.
