
Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan meski saat ini masih berada dalam tekanan global. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun masih diyakini berada dalam kisaran asumsi makro yang telah disepakati pemerintah dan DPR, yakni Rp 16.200-Rp 16.800 per dolar AS.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Perry menjelaskan tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan kebutuhan musiman (seasonal), bukan karena pelemahan fundamental ekonomi domestik.
Menurutnya, tekanan terhadap mata uang domestik biasanya meningkat pada periode April hingga Juni seiring tingginya kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, hingga kebutuhan perjalanan haji.
“Nilai fundamentalnya berapa? Average of the year Rp 16.500, kisaran bawahnya Rp 16.200 kisaran atasnya Rp 16.800,” kata Perry dalam Rapat Kerja Komisi XI, Senin (18/5).
Ia sepakat pergerakan rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalue), tapi tetap yakin kurs rupiah akan kembali bergerak menuju kisaran yang sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.
Keyakinan tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga kondisi neraca pembayaran Indonesia. Selain itu, BI juga memperkirakan tekanan permintaan dolar akan mereda memasuki semester II tahun ini.

Untuk mendorong penguatan rupiah, BI menyiapkan sejumlah strategi utama yang saat ini sudah dijalankan secara bertahap.
Langkah pertama ialah meningkatkan intervensi di pasar valuta asing. BI mengaku telah menaikkan “dosis” intervensi baik di pasar domestik maupun internasional untuk menahan gejolak kurs.
Meski intensitas intervensi meningkat, Perry memastikan cadangan devisa (cadev) Indonesia masih berada dalam posisi aman. Ia menyebut posisi cadangan devisa memang menurun akibat intervensi, tetapi masih jauh di atas standar kecukupan internasional.
“Kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Ukurannya apa? Ada IMF. IMF itu ada indikator kecukupan cadangan devisa,” kata Perry.
Ia melanjutkan, rasio kecukupan cadangan devisa Indonesia memang turun dari sebelumnya sekitar USD 121 miliar menjadi USD 114 miliar. Namun angka tersebut masih di atas ambang batas minimum.
“Dulu pernah USD 121 miliar, sekarang USD 114 miliar. Tapi masih di atas USD 100 miliar. Masih lebih dari cukup,” ujarnya.
Selain intervensi valas, BI juga menaikkan instrumen moneter melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali aliran modal asing ke dalam negeri.
Perry mengungkapkan strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada April hingga awal Mei 2026, instrumen SRBI tercatat mengalami aliran modal masuk (inflow) sebesar Rp 75,31 triliun.
BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder guna menjaga kecukupan likuiditas rupiah di pasar keuangan.

Langkah lainnya ialah memperketat pembelian dolar tanpa underlying transaksi. Mulai April, batas pembelian diturunkan dari USD 100 ribu menjadi USD 50 ribu dan akan kembali dipangkas menjadi USD 25 ribu pada Juni mendatang.
Di sisi lain, BI juga mempercepat penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), khususnya dengan China. Transaksi langsung rupiah-yuan disebut terus meningkat untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Perry menegaskan BI akan tetap mengedepankan kebijakan yang berfokus pada stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
“Kami meyakini bahwa Rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, under value karena globalnya yang tadi kami sampaikan dan juga ada seasonal payment April, May, Juni. Dan insya Allah nanti Juli dan itu akan menguat,” kata Perry.
