Rupiah dan Rupee Anjlok ke Rekor Terendah, Ini Penyebab Utamanya

Solderpanas JAKARTA – Nilai tukar rupiah dan rupee India terperosok ke titik terendah sepanjang masa pada awal pekan ini, memimpin gelombang pelemahan mata uang di seluruh kawasan Asia. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global dan imbal hasil, memperkuat dominasi dolar AS, serta menekan perekonomian negara-negara pengimpor minyak.

Advertisements

Ketegangan di Timur Tengah memang semakin memanas. Serangan pesawat tak berawak dilaporkan menghantam aset-aset Uni Emirat Arab, sementara Arab Saudi berhasil mencegat sejumlah drone. Iran, di sisi lain, berupaya menegaskan kendali atas Selat Hormuz, jalur transit minyak vital yang semakin mempersempit pasokan global dan memicu lonjakan harga komoditas strategis ini.

Rupiah, yang tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, ditutup di level Rp 17.668 per dolar AS. Angka ini menandai penurunan signifikan sebesar 1,1% dibandingkan penutupan Rabu (13/5/2026) di Rp 17.476 per dolar AS. Penurunan persentase intraday ini merupakan yang terbesar sejak April 2025, mencerminkan tekanan besar yang dihadapi mata uang Garuda.

Pergerakan ini sekaligus menorehkan rekor terendah kedua bagi mata uang lokal dalam kurun waktu seminggu. Kondisi ini menempatkan rupiah dalam lintasan menuju bulan Mei terburuk sejak tahun 2016, seiring dengan kembali dibukanya pasar Indonesia setelah libur panjang dan langsung menghadapi tekanan berat dari sentimen global dan domestik.

Advertisements

Pelemahan rupiah ini bukan hanya disebabkan oleh guncangan harga minyak akibat konflik Iran, tetapi juga diperparah oleh berbagai kekhawatiran domestik. Ini termasuk kekhawatiran atas disiplin fiskal, derasnya arus keluar dana asing, independensi Bank Sentral, serta isu tata kelola pasar saham setelah penghapusan indeks terbaru oleh MSCI.

Dampak domino dari tekanan ini juga merambat ke pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 3,7% menjadi 6.475,24 dalam sesi kelima berturut-turut mengalami koreksi. IHSG kini berada di level terendah sejak akhir April dan secara keseluruhan telah ambles lebih dari 25% sepanjang tahun ini, menunjukkan gejolak yang signifikan di pasar modal.

Menanggapi pelemahan yang kian mendalam, Bank Indonesia (BI) telah berulang kali melakukan intervensi. Otoritas moneter ini berupaya menekan volatilitas rupiah melalui pasar valuta asing dan menjanjikan penggunaan instrumen kebijakan moneter untuk meredakan tekanan yang ada. Langkah ini menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas mata uang.

Situasi ini menyoroti pentingnya pertemuan kebijakan BI pada minggu ini. Dengan suku bunga acuan yang masih bertahan di 4,75% setelah tujuh kali berturut-turut dipertahankan, pasar mulai berspekulasi, dengan Citi bahkan memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga untuk menahan laju pelemahan rupiah dan inflasi.

Tidak hanya rupiah, rupee India juga menghadapi tantangan serupa, mencapai titik terendah sepanjang masa di 96,303 per dolar AS. Penurunan ini semakin cepat sejak konflik Iran mendorong harga minyak lebih tinggi pada akhir Februari. Sejak saat itu, mata uang tersebut telah melemah sekitar 5,5%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada tahun ini.

Analis MUFG, Michael Wan, menjelaskan bahwa mata uang negara-negara berkembang Asia menanggung beban terberat dari penguatan dolar AS. Importir minyak seperti rupee India dan peso Filipina menghadapi pukulan ganda akibat kenaikan harga minyak, sementara mata uang yang sensitif terhadap imbal hasil seperti rupiah juga tertekan oleh hambatan domestik yang kompleks.

Di tengah gejolak regional, beberapa perekonomian Asia menunjukkan dinamika berbeda. Di Tiongkok, mitra dagang terbesar Asia, data April menunjukkan perlambatan momentum pertumbuhan dengan produksi pabrik yang mendingin dan penjualan ritel yang merosot. Saham di Shanghai turun 0,4%, meski yuan Tiongkok relatif stabil.

Kontras dengan itu, Thailand melaporkan pertumbuhan triwulanan yang lebih kuat dari perkiraan. Ekonomi negara Gajah Putih ini didukung oleh peningkatan ekspor, konsumsi, dan investasi. Baht Thailand hanya sedikit berubah, sementara pasar sahamnya naik tipis 0,2%, menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian regional.

Mata uang lain yang juga mengalami tekanan adalah ringgit Malaysia, yang melemah 0,7% menjadi 3,9750 per dolar AS. Ringgit berfluktuasi di dekat level psikologis kunci 4,000 dan berada di jalur untuk sesi ketiga berturut-turut mengalami kerugian, mencerminkan sentimen negatif yang berlaku.

Secara keseluruhan, Indeks mata uang pasar berkembang MSCI mengalami penurunan 0,4% untuk hari ketiga berturut-turut. Kondisi ini dipicu oleh aksi jual obligasi global yang memperketat kondisi keuangan di seluruh aset berisiko, mengindikasikan bahwa tekanan di pasar global masih akan berlanjut.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah dan rupee India anjlok ke rekor terendah, memimpin pelemahan mata uang di seluruh kawasan Asia. Kondisi ini utamanya dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global dan penguatan dolar AS, menekan perekonomian negara-negara pengimpor minyak. Rupiah ditutup pada Rp 17.668 per dolar AS, menandai penurunan signifikan, sementara rupee India juga mencapai titik terendah sepanjang masa.

Pelemahan rupiah diperparah oleh kekhawatiran domestik seperti disiplin fiskal dan arus keluar dana asing, yang turut menjatuhkan IHSG lebih dari 3,7%. Bank Indonesia telah berulang kali melakukan intervensi untuk menekan volatilitas rupiah dan menjanjikan penggunaan instrumen kebijakan moneter. Analis menyebut mata uang importir minyak dan yang sensitif terhadap imbal hasil seperti rupiah paling tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak global.

Advertisements