IHSG dan rupiah anjlok menjelang libur Idul Adha

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) anlok ke level 6.130,19 pada penutupan perdagangan menjelang Idul Adha Selasa, 26 Mei 2026. Sementara itu nilai tukar rupiah juga melemah 52 poin terhadap dolar Amerika Serikat.

Advertisements

Mengutip laman Bursa Efek Indonesia, hingga akhir sesi hari ini IHSG turun 1,23 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Indeks ditutup dengan nilai transaksi mencapai Rp 18,09 triliun, frekuensi trading sebanyak 1,96 juta kali dan volume trading sebanyak 24,88 miliar lembar saham.

Sementara itu, rupiah spot ditutup melemah 52 poin ke level 17.795 per dolar AS. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah besok bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah. “Di rentang Rp 17.790-17.850 per dolar AS,” ucapnya lewat analisis rutinnya Selasa, 26 Mei 2026.

Pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan penguatan indeks dolar Amerika Serikat. Faktor global yang memengaruhi didominasi perang yang masih terjadi di Timur Tengah. AS dilaporkan telah melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. Pasukan AS mengklaim bahwa serangan tersebut untuk membela diri, dan menekankan gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku.

Advertisements

Tanggapan Iran terhadap aksi ini belum jelas. Namun, menurut Ibrahim, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara kedua negara. “Terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut,” ucapnya

Sedangkan dari sisi domestik, ia menjelaskan krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi mulai muncul akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tekanan terhadap mata uang RI belum diprediksi kapan akan mereda.

Kondisi ini berdampak pada meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor. “Sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarnya.

Pilihan Editor: Bagaimana Seharusnya Investor Merespons Penilian MSCI

Advertisements