
DIREKTUR Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai terdapat ketidaksesuaian antara capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I- 2026 dan data ekonomi makro penunjangnya. “Ada anomali kondisi terhadap hasil perhitungan pemerintah,” katanya melalui keterangan tertulis pada Selasa, 5 Mei 2026.
Adapun Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi pada Januari–Maret 2026 sebesar 5,61 persen. Angka itu melonjak bila dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu yakni 4,96 persen.
Menurut Nailul, ada empat kondisi perekonomian yang tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi. Pertama, konsumsi rumah tangga yang disebut BPS tumbuh signifikan sebesar 5,52 persen pada kuartal pertama tahun ini ketimbang periode yang sama pada 2025 yakni 4,96 persen.
Ia lalu membandingkan dengan data Indeks Keyakinan Konsumen milik Bank Indonesia pada Maret 2026 yang sebesar 122,9 basis poin yang merosot ketimbang Januari 2026 sebesar 127 basis poin. Padahal umumnya Indeks Keyakinan Konsumen biasanya mencerminkan pergerakan konsumsi rumah tangga.
Selain itu, ada perlambatan pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya dibandingkan dengan kuartal I-2025. Padahal, ada momen Ramadan dan Lebaran yang seharusnya dapat mendongkrak konsumsi tersebut.
Sementara, pada tahun lalu, pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya tumbuh 6,86 persen, namun konsumsi rumah tangga melambat. “Jadi ada anomali dalam perhitungan konsumsi rumah tangga yang dilakukan oleh BPS,” kata dia.
Data kedua yang disoroti oleh Nailul adalah konsumsi transportasi dan komunikasi yang tumbuh tinggi dibandingkan empat kuartal sebelumnya. Pertumbuhannya pada kuartal I mencapai 6,91 persen.
Namun, di saat yang sama, jasa transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 8,04 persen. Capaiannya bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Begitu pun dengan pertumbuhan jasa informasi dan komunikasi yang melambat pada periode yang sama.
Berikutnya, data ketiga yang disoroti adalah pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) kendaraan. PMTB sub kendaraan berhasil tumbuh sebesar 12,39 persen, tetapi pertumbuhan industri alat angkutan terkontraksi hingga 5,02 persen.
Nailul menduga pertumbuhan PMTB kendaraan tersebut disumbang oleh besarnya impor kendaraan untuk keperluan Koperasi Desa Merah Putih. Pada akhirnya, impor urusan koperasi menjadi justifikasi PMTB kendaraan mengalami pertumbuhan yang luar biasa tinggi, padahal industri tengah mengalami kontraksi.
Data terakhir yang disoroti Nailul adalah industri pengolahan yang mengalami tekanan cukup tinggi sehingga hanya tumbuh sebesar 5,04 persen pada kuartal pertama. Ia pun mempertanyakan bagaimana pertumbuhan ekonomi justru sangat tinggi sedangkan pertumbuhan industri yang jauh melambat. Sebab, kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pilihan Editor: Mengapa Ekonomi Tumbuh Saat Konsumsi Turun
