JAKARTA – Prospek harga emas dalam jangka menengah dinilai tetap positif, meskipun sempat menghadapi tekanan signifikan sepanjang bulan terakhir. Sentimen ini muncul seiring dengan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), yang kini mulai menunjukkan pembalikan.
Kondisi pasar terkini memang mencerminkan optimisme tersebut. Melansir data Trading Economic pada Rabu (6/5) pukul 12.50 WIB, harga emas di pasar spot terpantau melonjak di atas level US$4.600 per ons troi, tepatnya mencapai US$4.651. Kenaikan ini menandai pertumbuhan harian sebesar 2,2% dan akumulasi 7,23% sejak awal tahun (year-to-date).
Korelasi positif juga terlihat pada pasar domestik. Harga emas batangan bersertifikat yang dikeluarkan oleh Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) mengalami kenaikan substansial. Tercatat, harganya naik Rp30.000 per gram, dari semula Rp2.760.000 menjadi Rp2.790.000 per gram.
Harga Emas Kembali Menguat, Analis Waspadai Tekanan Suku Bunga Global
Namun, perlu diingat bahwa kilau emas ini tidak selalu konstan. Dalam sebulan terakhir, harga emas sempat mengalami tren pelemahan yang cukup lesu. Bahkan, pada Senin (5/5) pagi, harganya hampir tergelincir di bawah US$4.500 per ons troi, menyusut hingga mencapai US$4.516.
Nanang Wahyudin, selaku Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, menjelaskan bahwa pelemahan emas dalam sebulan terakhir terutama disebabkan oleh penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Data inflasi AS yang masih relatif tinggi telah memicu spekulasi bahwa bank sentral tersebut akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama (higher for longer).
“Situasi ini mendorong yield riil tetap tinggi, yang pada gilirannya menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil,” jelas Nanang kepada Kontan pada Senin (5/5/2026), menegaskan dampak langsung dari kebijakan moneter tersebut.
Dari perspektif domestik, Nanang menyoroti bahwa pergerakan harga emas batangan Antam sangat dipengaruhi oleh dinamika emas global dan stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam kondisi rupiah yang cenderung stabil, penurunan harga emas global akan lebih langsung tercermin pada harga emas domestik.
Meskipun demikian, Nanang berpendapat bahwa tren bullish emas secara struktural masih belum berakhir. Ia menekankan bahwa faktor-faktor fundamental seperti pembelian masif oleh bank sentral global, diiringi oleh ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan, tetap menjadi penopang utama harga emas dalam jangka menengah.
Bitcoin Tembus US$ 81.000, Target US$ 100.000 Makin di Depan Mata
Untuk para investor, Nanang menyarankan strategi yang cermat. Bagi mereka yang telah memiliki posisi emas, disarankan untuk tetap mempertahankan (hold) investasinya, mengingat tren jangka menengah yang masih konstruktif. Sementara itu, bagi investor yang baru ingin masuk ke pasar, strategi bertahap atau averaging disarankan, khususnya saat harga emas berada di area koreksi.
“Tidak perlu melakukan panic selling, kecuali jika ada perubahan fundamental yang signifikan, seperti kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed,” pungkasnya, memberikan arahan yang jelas.
Ke depan, Nanang memproyeksikan harga emas global pada tahun 2026 akan bergerak dalam kisaran US$4.600 hingga US$4.900 per ons troi. Sementara itu, harga emas Antam diperkirakan akan berada di rentang Rp2,7 juta hingga Rp3,1 juta per gram, meskipun angka ini sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar rupiah.
Ia menambahkan, sejumlah katalis positif yang berpotensi mendorong harga emas termasuk peralihan kebijakan Federal Reserve ke arah pelonggaran moneter, meningkatnya ketegangan geopolitik global, serta pelemahan dolar AS. Faktor-faktor ini diperkirakan akan memberikan dukungan signifikan bagi logam mulia.
“Harga emas saat ini lebih mencerminkan penyesuaian jangka pendek, bukan pembalikan tren utama. Secara strategis, emas tetap relevan sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan aset lindung nilai,” tutup Nanang, menggarisbawahi pentingnya investasi emas dalam kondisi pasar yang bergejolak.
Ringkasan
Harga emas spot global melonjak di atas US$4.600 per ons troi, mencapai US$4.651, pada 6 Mei 2024, didukung oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Kenaikan ini juga tercermin pada emas batangan Antam yang naik Rp30.000 menjadi Rp2.790.000 per gram. Sebelumnya, dalam sebulan terakhir, harga emas sempat melemah hingga US$4.516 akibat penyesuaian ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed di tengah inflasi AS.
Meski mengalami penyesuaian jangka pendek, prospek harga emas dalam jangka menengah dinilai tetap positif dan bullish secara struktural. Faktor pendorong utama meliputi pembelian masif oleh bank sentral global, ketidakpastian geopolitik, serta potensi pelonggaran moneter The Fed. Investor disarankan untuk mempertahankan posisi atau melakukan pembelian bertahap saat koreksi, menjadikan emas aset relevan untuk diversifikasi dan lindung nilai.
