Harga minyak mulai normal, begini prospek kinerja emiten migas

Solderpanas JAKARTA. Mayoritas emiten produsen minyak dan gas (migas) telah merilis laporan keuangan pada kuartal I-2026 dengan hasil yang beragam. Prospek emiten di sektor ini pada masa mendatang tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dunia, melainkan juga performa operasionalnya.

Advertisements

Salah satu emiten migas, yakni PT Medco Energi International Tbk meraih kenaikan pendapatan sebesar 19,23% year on year (yoy) menjadi US$ 668,30 juta pada kuartal I-2026. Pada saat yang sama, laba bersih MEDC melonjak 282,40% yoy menjadi US$ 67,38 juta.

Sebaliknya, PT Raharja Energi Cepu Tbk mengalami penurunan pendapatan bersih 16,83% yoy menjadi US$ 11,02 juta pada kuartal I-2026, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk emiten tersebut terkoreksi 31,42% yoy menjadi US$ 4,06 juta.

Induk usahanya, PT Rukun Raharja Tbk mencatat penurunan pendapatan bersih 16,39% yoy menjadi US$ 55,26 juta pada kuartal I-2026. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk RAJA tumbuh 28,38% yoy menjadi US$ 8,64 juta.

Advertisements

Rupiah Melemah dan Minyak Naik, Target IHSG 2026 Dipangkas

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, perbedaan hasil kinerja sejumlah emiten migas pada kuartal I-2026 cukup dipengaruhi oleh kombinasi faktor harga minyak mentah dunia, struktur bisnis, kontribusi produksi, efisiensi biaya, serta momentum pengakuan pendapatan masing-masing emiten.

Tren kenaikan harga minyak dunia yang terjadi selepas Februari 2026 memang menjadi sentimen positif bagi emiten produsen migas, namun dampaknya tidak seragam karena setiap emiten memiliki profil bisnis yang berbeda.

Contohnya, MEDC cenderung diuntungkan lantaran memiliki eksposur produksi migas yang lebih besar dan kemampuan lifting yang relatif stabil, sehingga kenaikan harga jual komoditas langsung menopang pendapatan dan margin laba.

Sebaliknya, RATU mengalami tekanan akibat faktor operasional seperti penurunan volume produksi, normalisasi harga jual, maupun basis realisasi laba yang tinggi pada periode sebelumnya.

Di sisi lain, RAJA masih bisa mencatat kenaikan laba bersih walau pendapatannya turun berkat adanya efisiensi biaya, perbaikan margin usaha, dan kontribusi pendapatan non-operasional atau bisnis midstream yang lebih defensif.

“Jadi, perbedaan arah kinerja bukan hanya dipengaruhi harga minyak, melainkan juga kualitas aset, struktur bisnis, dan performa operasional masing-masing emiten,” ujar dia, Kamis (7/5/2026).

Laba Bersih PGAS Melonjak, Ini Prospek dan Target Harga Sahamnya

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, peluang emiten-emiten produsen migas untuk kembali meningkatkan kinerjanya selepas kuartal I-2026 cukup terbuka, namun dengan prospek yang lebih moderat.

Jika konflik geopolitik di Timur Tengah mereda dan harga minyak dunia turun bertahap, maka potensi pertumbuhan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emiten akan melambat.

Mengutip Trading Economics, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate dan Brent telah kembali ke kisaran US$ 90 per barel pada hari ini.

Namun, peluang pertumbuhan akan tetap ada melalui peningkatan volume produksi, kontribusi dari aset blok baru, dan efisiensi biaya. Di sini, emiten migas yang memiliki aset berbiaya rendah dan produksi stabil akan lebih tahan banting menghadapi volatilitas harga minyak dunia.

“Penentu kinerja bukan hanya pada harga minyak dunia, melainkan juga eksekusi operasional dan volume produksi,” imbuh dia, Kamis (7/5/2026).

Menurut Wafi, strategi yang perlu diperkuat emiten migas agar kinerjanya tetap optimal adalah fokus menjaga efisiensi lifting dan biaya produksi, diversifikasi ke aset komoditas gas alam yang permintaannya lebih stabil, serta selektif ketika hendak mengakuisisi blok migas yang produktif.

Kinerja Siloam International (SILO) Solid Kuartal I-2026, Simak Rekomendasi Analis

Arinda menambahkan, aktivitas akuisisi aset blok migas oleh emiten kemungkinan akan tetap berlangsung pada 2026, terutama untuk aset yang sudah berproduksi atau memiliki cadangan menarik. Ini mengingat banyak perusahaan migas ingin menjaga keberlanjutan produksi untuk jangka panjang.

Kendati begitu, emiten migas kemungkinan akan lebih selektif dibandingkan ketika periode booming komoditas. Sebab, emiten kini lebih fokus pada aset dengan keekonomian kuat, periode pengembalian modal cepat, dan risiko operasional lebih rendah.

“Ekspansi masih menarik, tetapi pendekatannya akan lebih prudent dan berbasis efisiensi,” katanya.

Sebagai catatan, baru-baru ini RATU mengumumkan akan mengakuisisi SMS Development Limited dengan total nilai mencapai US$ 141,21 juta, yang meliputi akuisisi saham senilai US$ 62,51 juta, shareholder loan agreement sebagai bagian dari Perjanjian Novasi sebesar US$ 59,20 juta, serta klausul contingent payment maksimal US$ 19,50 juta.

Dari situ, Arinda melihat saham MEDC layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di level Rp 2.200 per saham.

Di lain pihak, Wafi menyebut saham MEDC dan RAJA dapat dicermati oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 1.900 per saham dan Rp 4.500 per saham.

Advertisements