Jakarta, IDN Times – Aktivitas penawaran saham umum perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren yang sangat minim hingga Mei 2026. Data resmi dari BEI mencatat, baru satu perusahaan yang berhasil melantai di bursa pada awal tahun 2026, yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April 2026. Angka ini mencerminkan penurunan drastis jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Januari-Mei 2025, di mana sebanyak 13 perusahaan sukses melaksanakan IPO.
Menanggapi fenomena ini, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini memicu pertimbangan tambahan yang cermat bagi perusahaan dalam memutuskan untuk IPO. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri, yang merupakan barometer utama pasar modal Indonesia, cenderung menunjukkan pelemahan, bahkan sempat menyentuh level terendah 6.398,79 poin pada hari pernyataan tersebut. “Tentu dalam kondisi pasar seperti ini ya mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tambahan apakah bisa mendapatkan pricing yang optimal ya. Apakah nanti IPO-nya bisa terserap dengan baik oleh pasar atau tidak,” ujar Jeffrey di gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).
Jeffrey menegaskan, pada akhirnya, keputusan untuk melangsungkan IPO sepenuhnya berada di tangan perusahaan dan penjamin emisi. “Keputusan untuk IPO adalah keputusan strategis dari setiap perusahaan,” tambahnya, menandakan bahwa langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan strategi bisnis fundamental yang mempertimbangkan berbagai faktor.
Meskipun demikian, BEI tetap menunjukkan optimisme tinggi terhadap target IPO tahun ini. Untuk 2026, BEI menargetkan ada 50 perusahaan yang akan melantai, sebuah lonjakan signifikan hampir dua kali lipat dari realisasi 26 emiten pada 2025. Hingga saat ini, sebanyak 15 perusahaan telah masuk dalam pipeline pencatatan saham BEI. “Sampai saat ini kita masih sesuai dengan target. Nanti kalaupun ada perubahan nanti kami sampaikan,” kata Jeffrey, menunjukkan keyakinan bahwa target ambisius tersebut masih dalam jangkauan.
Lebih lanjut, Jeffrey menekankan prinsip utama yang dipegang BEI: mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas. “Tentu kita kita kan sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan mengutamakan kualitas daripada kuantitas ya. Saya kira kesepakatan itu masih berlaku dan masih sama seperti itu,” jelasnya. Prioritas pada kualitas perusahaan yang terdaftar sebagai emiten ini merupakan komitmen untuk menjaga dan meningkatkan keberlangsungan serta kredibilitas pasar modal Indonesia di masa mendatang, demi kepentingan semua pihak.
Ringkasan
Aktivitas penawaran saham umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren sangat minim hingga Mei 2026, di mana hanya satu perusahaan yang melantai dibandingkan 13 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa kondisi pasar dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah membuat perusahaan mempertimbangkan ulang waktu dan harga penawaran IPO. Keputusan untuk melangsungkan IPO sepenuhnya merupakan strategi perusahaan dan penjamin emisi.
Meskipun demikian, BEI tetap optimistis dapat mencapai target 50 perusahaan IPO pada tahun 2026, dengan 15 perusahaan sudah masuk dalam pipeline pencatatan saham. BEI menekankan prinsip mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas dalam proses IPO. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan keberlanjutan serta kredibilitas pasar modal Indonesia.
