Bisnis.com, JAKARTA — Jerome Powell telah resmi ditunjuk sebagai ketua ad interim Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, setelah masa jabatannya berakhir pada Jumat (15/5/2026). Penunjukan ini dilakukan menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai ketua baru The Fed yang sebelumnya telah mendapatkan konfirmasi dari Senat AS.
Berdasarkan keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Federal Reserve Board pada Jumat, penunjukan Powell sebagai ketua sementara ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kepemimpinan. Hal ini terjadi setelah masa jabatannya sebagai ketua resmi rampung dan sebelum Warsh resmi diambil sumpahnya. Langkah ini juga disebut sejalan dengan praktik transisi kepemimpinan yang lazim di bank sentral Amerika Serikat, memastikan kelancaran operasional lembaga krusial ini. The Fed menyatakan, Powell akan tetap menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas sementara ketua hingga Warsh resmi dilantik, sebagaimana dikutip pada Sabtu (16/5/2026).
Namun, keputusan untuk menunjuk Powell sebagai pelaksana tugas sementara ini tidak sepenuhnya mendapat dukungan bulat dari seluruh anggota Dewan Gubernur The Fed. Wakil Ketua The Fed Bidang Pengawasan, Michelle W. Bowman, dan Gubernur Stephen I. Miran secara tegas menyatakan dukungan mereka terhadap Powell sebagai pejabat sementara, tetapi menolak keras pemberlakuan penunjukan tanpa batas waktu yang jelas.
Dalam pandangan Bowman dan Miran, situasi transisi kali ini berbeda secara signifikan dibandingkan dengan suksesi sebelumnya. Perbedaannya terletak pada fakta bahwa pengganti ketua The Fed, Kevin Warsh, telah lebih dahulu dikonfirmasi oleh Senat AS sebelum proses pelantikan resmi. Keduanya berpendapat bahwa penunjukan ketua pro tempore seharusnya dibatasi dalam periode tertentu, idealnya setidaknya satu pekan, atau paling lama satu bulan untuk mengantisipasi potensi keterlambatan pelantikan. Mereka menambahkan, jika Warsh belum juga dilantik dalam periode tersebut, penunjukan ketua sementara harus diperbarui melalui pemungutan suara baru Dewan Gubernur atau melalui tindakan langsung dari Presiden AS.
Perbedaan pandangan inilah yang membuat Bowman dan Miran menyatakan tidak dapat mendukung keputusan penunjukan Jerome Powell tanpa adanya batasan waktu yang eksplisit. Kontroversi ini muncul tidak lama setelah Senat AS mengesahkan nominasi Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral Federal Reserve, sebuah pilihan yang diusung oleh Presiden Donald Trump.
Mengutip laporan BBC pada Kamis (14/5/2026), Warsh berhasil memperoleh dukungan 54 suara berbanding 45 suara penolakan dalam pemungutan suara yang digelar pada Rabu (13/5/2026). Ia akan mengambil alih posisi dari Jerome Powell, yang selama masa kepemimpinannya kerap berselisih paham dengan Presiden Trump terkait kebijakan suku bunga. Masa jabatan Powell sendiri secara resmi berakhir pada Jumat (15/5/2026).
Margin persetujuan untuk Warsh ini tercatat sebagai yang paling tipis dalam sejarah konfirmasi ketua The Fed sejak mekanisme tersebut diberlakukan pada tahun 1977, menyoroti polarisasi politik yang kuat. Menariknya, hanya satu senator dari Partai Demokrat, John Fetterman, yang memberikan suara mendukung pengesahan Warsh, menggarisbawahi tantangan politik yang mungkin akan dihadapi oleh kepemimpinan baru The Fed.
Ringkasan
Jerome Powell telah resmi ditunjuk sebagai ketua ad interim Federal Reserve setelah masa jabatannya berakhir pada 15 Mei 2026. Penunjukan ini bertujuan mengisi kekosongan kepemimpinan sebelum Kevin Warsh resmi dilantik, yang sebelumnya telah dikonfirmasi oleh Senat AS. Powell akan menjabat sementara untuk memastikan kelancaran operasional bank sentral selama masa transisi kepemimpinan.
Namun, keputusan penunjukan Powell sebagai pelaksana tugas sementara tanpa batas waktu ini tidak disetujui secara bulat oleh Dewan Gubernur The Fed. Wakil Ketua Michelle W. Bowman dan Gubernur Stephen I. Miran menolak penunjukan tanpa batasan waktu, berpendapat bahwa karena Warsh sudah dikonfirmasi, masa jabatan ad interim harus dibatasi. Mereka mengusulkan periode penunjukan idealnya satu minggu hingga paling lama satu bulan.
