
JAKARTA – Kinerja emiten BUMN karya menunjukkan tren yang beragam sepanjang kuartal I 2026. Di tengah dinamika industri konstruksi yang menantang, masing-masing perusahaan menempuh jalur pemulihan dengan kecepatan yang berbeda.
PT PP Tbk (PTPP) mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 2,83 triliun pada kuartal pertama 2026, turun 19,20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,5 triliun. Sejalan dengan itu, laba bersih PTPP terkoreksi 15,01% secara year on year (YoY) menjadi Rp 50,46 miliar.
Di sisi lain, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) masih bergelut dengan kerugian. WIKA membukukan penurunan pendapatan bersih sebesar 16,34% YoY menjadi Rp 2,6 triliun. Beban operasional yang cukup berat menyebabkan WIKA menderita rugi bersih sebesar Rp 1,13 triliun pada akhir Maret 2026, meningkat 45,73% YoY.
Sebaliknya, perbaikan kinerja terlihat pada WSKT. Kerugian perusahaan menyusut 45,58% menjadi Rp 678,03 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,24 triliun. Selain itu, WSKT berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 54,86% YoY menjadi Rp 2,09 triliun.
IHSG Menguat Tipis, Ini Rekomendasi Saham AMRT, BRMS, BMRI untuk 5 Mei 2026
Sementara itu, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 154,12 miliar, melonjak tajam dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 317 juta. Meskipun demikian, pendapatan usaha ADHI tercatat turun tipis dari Rp 1,68 triliun menjadi Rp 1,66 triliun.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai bahwa perbedaan arah kinerja emiten BUMN karya lebih dipengaruhi oleh fase restrukturisasi dan kualitas proyek masing-masing, bukan sekadar dinamika industri. Secara umum, terbatasnya proyek baru dan seleksi yang semakin ketat menjadi faktor utama penurunan pendapatan di sektor ini.
Liza menambahkan, setiap emiten berada pada tahapan pemulihan yang berbeda. WSKT mulai merasakan dampak positif dari restrukturisasi utang dan penurunan beban bunga, sedangkan WIKA masih tertekan oleh beban keuangan serta proyek-proyek lama dengan margin keuntungan yang rendah. ADHI dinilai lebih stabil berkat eksposur proyek pemerintah yang terus berjalan, sementara laba PTPP tertekan akibat margin proyek yang belum optimal dan perlambatan eksekusi di lapangan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa perbedaan performa ini bersumber dari perbedaan strategi keuangan dan manajemen proyek. “Laba ADHI naik berkat pengakuan proyek baru dan efisiensi, sedangkan PTPP menghadapi tekanan margin,” ujar Wafi.
Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan, Ini Rentang Pergerakannya Selasa (5/5)
Menatap prospek tahun 2026, pemulihan emiten BUMN karya diprediksi akan berjalan secara gradual. Liza melihat sentimen positif datang dari potensi percepatan proyek infrastruktur pemerintah dan upaya deleveraging. Namun, tantangan berupa beban utang yang tinggi, arus kas yang belum stabil, serta suku bunga yang menekan biaya pendanaan masih menjadi hambatan besar.
Dalam kondisi ini, ADHI dan PTPP dinilai lebih defensif dibandingkan emiten lainnya. WSKT saat ini masih berada dalam fase pemulihan bertahap, sementara WIKA menghadapi tantangan paling berat dari sisi beban keuangan.
Wafi menambahkan bahwa meskipun ada peluang perbaikan melalui proyek pemerintah, penanaman modal negara (PMN), dan restrukturisasi lanjutan, investor perlu tetap waspada. “Saat ini, PTPP dan ADHI memiliki struktur keuangan yang relatif lebih manageable dibandingkan WSKT dan WIKA,” ungkapnya.
Terkait strategi investasi, Wafi menyarankan investor untuk tidak melakukan investasi besar secara sekaligus pada sektor ini mengingat profil risikonya yang tinggi. Saham PTPP dan ADHI, dengan target harga masing-masing Rp 350 dan Rp 300 per saham, dinilai layak dicermati untuk kebutuhan trading atau akumulasi bertahap saat terjadi koreksi. Investor disarankan untuk fokus pada emiten dengan utang terkendali serta memiliki kejelasan proyek baru, dan menghindari perusahaan dengan beban utang tinggi tanpa visibilitas pemulihan yang jelas.
Kepemilikan SBN Ditopang Investor Domestik, Begini Dampaknya ke Pasar Keuangan
Ringkasan
Kinerja emiten BUMN karya pada Kuartal I 2026 menunjukkan hasil yang beragam. PT PP Tbk (PTPP) mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih, sementara PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) masih bergelut dengan kerugian yang memburuk. Sebaliknya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berhasil menyusutkan kerugian dan meningkatkan pendapatan. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) bahkan membalikkan keadaan dengan mencetak laba bersih yang melonjak tajam.
Perbedaan kinerja emiten ini dipengaruhi oleh fase restrukturisasi dan kualitas proyek masing-masing, di tengah terbatasnya proyek baru secara umum. Prospek pemulihan BUMN karya di tahun 2026 diprediksi berjalan gradual, menghadapi tantangan beban utang tinggi dan suku bunga. Para analis menilai PT Adhi Karya (ADHI) dan PT PP (PTPP) lebih defensif dengan struktur keuangan yang lebih terkelola. Investor disarankan berinvestasi secara bertahap pada emiten dengan utang terkendali dan visibilitas proyek baru.
