
JAKARTA – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang memuaskan sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan menghadapi tekanan pada pendapatan di tengah tantangan pasar yang ada.
Pada kuartal I-2026, pendapatan usaha AADI terkoreksi sebesar 10,34% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 1,04 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana perusahaan mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 1,16 miliar.
Secara rinci, kontribusi pendapatan terbesar masih berasal dari segmen pertambangan dan perdagangan batubara. Segmen ini membukukan pendapatan sebesar US$ 988,36 juta pada kuartal I-2026, turun 11,29% yoy dari sebelumnya US$ 1,11 miliar. Sebaliknya, segmen logistik mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan 2,20% yoy, yakni naik menjadi US$ 134,04 juta dari US$ 131,15 juta pada kuartal I-2025.
Adaro Andalan Indonesia (AADI) Siap Buyback Saham Rp 5 Triliun
Sementara itu, segmen lainnya menyumbang pendapatan sebesar US$ 17,04 juta, atau mengalami penurunan 4,96% yoy dari periode sebelumnya yang mencapai US$ 17,93 juta. Seluruh total pendapatan tersebut kemudian disesuaikan dengan eliminasi sebesar US$ 95,25 juta.
Dari sisi efisiensi, beban pokok pendapatan AADI berhasil ditekan sebesar 3,72% yoy menjadi US$ 786,64 juta, dari sebelumnya sebesar US$ 817,03 juta. Kendati beban pokok berkurang, laba bruto perusahaan tetap tertekan. AADI mengantongi laba bruto sebesar US$ 257,55 juta pada kuartal I-2026, atau menyusut 25,87% dibandingkan laba bruto kuartal I-2025 yang mencapai US$ 347,41 juta.
Penurunan juga terlihat pada laba sebelum pajak penghasilan yang tercatat sebesar US$ 208,44 juta pada kuartal I-2026, turun 25,64% yoy dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka US$ 280,30 juta.
AADI Bakal Divestasi Aset Tambang di Australia Bernilai Jumbo, Simak Rekomendasinya
Dampaknya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk AADI pun mengalami penurunan sebesar 27,02%. Laba bersih perusahaan tercatat sebesar US$ 143,04 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan dengan US$ 196 juta pada kuartal I-2025.
Meskipun performa laba mengalami kontraksi, posisi aset AADI justru menunjukkan penguatan. Hingga akhir kuartal I-2026, total aset yang dimiliki perusahaan mencapai US$ 5,78 miliar, mencatatkan peningkatan tipis sebesar 1,23% dibandingkan total aset pada akhir tahun 2025 yang sebesar US$ 5,71 miliar.
Ringkasan
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan penurunan kinerja keuangan pada kuartal I-2026 dengan pendapatan usaha terkoreksi 10,34% menjadi US$ 1,04 miliar. Penurunan ini didorong oleh melemahnya segmen pertambangan dan perdagangan batubara, meskipun segmen logistik mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,20%. Akibat tekanan tersebut, laba bersih perusahaan ikut menyusut 27,02% menjadi US$ 143,04 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah penurunan profitabilitas, perusahaan berhasil menekan beban pokok pendapatan sebesar 3,72% untuk menjaga efisiensi operasional. Selain itu, total aset AADI justru menunjukkan penguatan tipis sebesar 1,23% menjadi US$ 5,78 miliar hingga akhir kuartal pertama tahun 2026. Di sisi lain, perusahaan juga telah mengumumkan rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 5 triliun serta divestasi aset tambang di Australia.
