
Solderpanas NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat (15/5/2026), di tengah melonjaknya kekhawatiran akan inflasi. Ketegangan akibat konflik di Timur Tengah memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, secara langsung mengancam laju reli saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya perkasa.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun, yang menjadi barometer utama biaya pinjaman global, melonjak tajam hingga mencapai 4,58%. Angka ini merupakan level tertinggi yang tercatat sejak Mei 2025. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi global turut terkerek naik, mencerminkan semakin dalamnya kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari perang di Iran. Kondisi ini dinilai berpotensi mempercepat kenaikan suku bunga acuan dan secara inheren menekan pertumbuhan ekonomi global.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember telah mencapai sekitar 40%. Angka ini merujuk pada alat FedWatch dari CME Group, dan telah meningkat lebih dari dua kali lipat hanya dalam sepekan terakhir. Peningkatan probabilitas ini terjadi setelah serangkaian data inflasi AS menunjukkan tekanan harga masih jauh dari kata terkendali.
Wall Street Perpanjang Reli Kamis (14/5), Cermati Hasil Pertemuan Trump & Xi Jinping
“Pasar bereaksi terhadap serangkaian data inflasi terbaru yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan, ditambah dengan kondisi ekonomi yang masih relatif kuat,” ujar Kiran Ganesh, Multi-Asset Strategist UBS Global Wealth Management. Ia menambahkan, “Oleh karena itu, pasar mulai memperhitungkan risiko bahwa bank-bank sentral mungkin akan merasa perlu untuk kembali menaikkan suku bunga.”
Di tengah ketidakpastian pasar, harga minyak mentah Brent melonjak 2,4% menjadi 108,28 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran yang mereduksi harapan akan berakhirnya konflik Timur Tengah, yang kini telah berlangsung selama dua setengah bulan.
Pada pukul 21.05 WIB, indeks-indeks utama Wall Street menunjukkan pelemahan. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 436,84 poin atau 0,87% menuju level 49.626,62. Sementara itu, Indeks S&P 500 melemah 84,88 poin atau 1,13% ke posisi 7.416,36, dan Nasdaq Composite anjlok 433,36 poin atau 1,63% ke level 26.201,86.
Dari 11 sektor utama S&P 500, delapan di antaranya berada di zona merah, dengan sektor teknologi mencatat penurunan paling tajam. Indeks volatilitas CBOE, yang sering dijuluki sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street, turut naik 1,5 poin menjadi 18,8, mencerminkan meningkatnya kecemasan investor.
Pelemahan pasar ini kontras dengan kondisi sehari sebelumnya, ketika Wall Street sempat mencetak rekor tertinggi baru. Saat itu, optimisme terhadap potensi kecerdasan buatan (AI) berhasil mengalahkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang diakibatkan oleh perang di Iran.
Nasdaq sendiri kini berada di jalur untuk menghapus penguatan mingguan setelah saham-saham perusahaan chip mengalami tekanan jual yang masif. Saham Nvidia dan AMD masing-masing terjun lebih dari 4%, sedangkan Intel merosot 6,8%. Indeks semikonduktor Philadelphia secara keseluruhan juga melemah hingga 4%.
Saham Chip Angkat Wall Street Rabu (13/5), S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru
Investor juga turut mencermati hasil pertemuan puncak antara AS dan China yang berakhir pada Jumat tanpa menghasilkan terobosan signifikan. Pembahasan kedua negara mencakup beragam isu sensitif seperti perdagangan, tarif, situasi di Iran, hingga Taiwan.
Di tengah tekanan pasar yang meluas, beberapa saham justru berhasil menunjukkan ketahanan. Saham Microsoft, misalnya, naik 1,3% setelah miliarder Bill Ackman mengumumkan bahwa hedge fund miliknya, Pershing Square, akan mengungkapkan posisi investasi baru di raksasa teknologi tersebut pada Jumat. Demikian pula, saham Dexcom melonjak 5,6% menyusul pengumuman penunjukan dua direktur independen baru dan perombakan komite dewan perusahaan, bekerja sama dengan investor aktivis Elliott Investment Management.
Namun, tidak semua berita positif mampu mengerek harga saham. Produsen peralatan semikonduktor Applied Materials, misalnya, justru turun 2,3% meskipun perusahaan tersebut memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal ketiga yang berada di atas ekspektasi Wall Street. Sektor maskapai penerbangan juga terpukul keras akibat lonjakan harga minyak; saham Delta Air Lines, United Airlines, Southwest Airlines, dan Alaska Air semuanya mencatat penurunan antara 1,9% hingga 2,7%.
Secara keseluruhan, pasar ditandai oleh dominasi saham yang melemah. Di Bursa Efek New York (NYSE), rasio saham turun berbanding saham naik mencapai 3,84 banding 1, sementara di Nasdaq, rasio tersebut mencapai 3,34 banding 1. S&P 500 mencatat delapan saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu, namun di sisi lain, 15 saham menyentuh level terendah baru. Nasdaq Composite melihat 21 saham mencapai level tertinggi baru, tetapi jumlah saham yang menyentuh level terendah baru jauh lebih banyak, yakni 85 saham.
Ringkasan
Bursa saham Wall Street mengalami pelemahan signifikan pada Jumat (15/5/2026) akibat kekhawatiran inflasi yang melonjak dan ketegangan konflik di Timur Tengah. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan probabilitas Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan pada Desember. Konflik tersebut juga menyebabkan imbal hasil obligasi Treasury AS melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025 dan mendorong harga minyak Brent naik tajam.
Akibatnya, ketiga indeks utama Wall Street, yakni Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite, anjlok. Sektor teknologi, terutama saham-saham perusahaan chip seperti Nvidia dan AMD, mencatat penurunan paling tajam, menghapus penguatan yang sebelumnya didorong oleh optimisme AI. Meskipun beberapa saham seperti Microsoft dan Dexcom menguat, pasar secara keseluruhan didominasi oleh saham yang melemah, dengan sektor penerbangan juga terpukul oleh lonjakan harga minyak.
