
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dengan tegas menyatakan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih sangat memadai untuk menopang upaya lembaganya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Per akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat berada pada posisi US$ 148,2 miliar, angka yang krusial dalam pertahanan ekonomi nasional.
Meskipun tercatat mengalami sedikit penurunan dibandingkan posisi pada bulan Februari, Perry optimistis bahwa jumlah tersebut tetap kuat dan lebih dari cukup bagi BI untuk melancarkan intervensi dalam skala besar guna meredam gejolak pasar. “Tapi US$ 148,2 miliar itu lebih dari cukup, kami ukur kebutuhan-kebutuhan untuk intervensi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Perry menjelaskan, cadangan devisa dihimpun ketika terjadi arus modal masuk (capital inflow) yang besar. Sebaliknya, cadangan tersebut akan dikerahkan pada saat terjadi arus modal keluar (capital outflow) atau ketika investor asing menarik dananya dari pasar domestik, menjadi benteng pertahanan bagi perekonomian.
Untuk mengawal stabilitas mata uang Garuda, Perry menegaskan bahwa langkah intervensi BI sudah dilakukan secara “all out” atau menyeluruh, tidak hanya di pasar spot domestik, tetapi juga merambah ke pasar Non Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta Domestic NDF. “Kami itu intervensi di pasar luar negeri, di Hongkong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi, itu namanya bukan business as usual, itu all out,” ujar Perry, menggambarkan intensitas dan cakupan intervensi yang luar biasa.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja positif dengan menguat hingga mencapai level Rp 17.333 per dolar Amerika Serikat. Menganalisis pergerakan ini, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyoroti optimisme pasar global terkait potensi meredanya konflik di Timur Tengah sebagai salah satu pendorong penguatan rupiah.
Sementara itu, dari ranah domestik, Ibrahim menambahkan bahwa potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi dinamika nilai tukar. Ia menjelaskan, “Potensi penyesuaian harga BBM kian terbuka seiring tekanan fiskal yang meningkat akibat lonjakan harga energi global, ditambah beban subsidi yang berpotensi melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” sebagaimana disampaikannya dalam keterangan tertulis pada Kamis, 7 Mei 2026, menggarisbawahi kompleksitas faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Pilihan Editor: Amankah Cadangan Devisa Indonesia
Ringkasan
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 148,2 miliar per akhir Maret 2026 sangat memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun tercatat sedikit menurun dari Februari, jumlah ini dinilai lebih dari cukup bagi BI untuk intervensi “all out” di pasar spot domestik maupun pasar Non Deliverable Forward (NDF) luar negeri. Cadangan devisa ini dihimpun saat modal masuk dan dikerahkan saat modal keluar sebagai benteng pertahanan ekonomi.
Pada penutupan perdagangan 7 Mei 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan menjadi Rp 17.333 per dolar Amerika Serikat. Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, penguatan ini didorong oleh optimisme pasar global terkait meredanya konflik Timur Tengah. Faktor lain yang memengaruhi dinamika rupiah adalah potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik akibat tekanan fiskal dan lonjakan harga energi global.
