KAI tutup 44 perlintasan liar per April 2026

PT KERETA Api Indonesia (Persero) atau KAI telah menutup 44 perlintasan sebidang liar per April tahun ini. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, jumlah tersebut bagian dari 1.329 perlintasan liar yang telah ditutup sejak 2021.

Advertisements

“Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menciptakan ruang perjalanan yang lebih aman dan mengurangi potensi kecelakaan di perlintasan,” katanya dalam keterangan tertulis pada Rabu, 6 Mei 2026.

Menurut data KAI, perlintasan liar di Indonesia yang ditutup pada 2021 sebanyak 324, pada 2022 sebanyak 292, pada 2023 sebanyak 107, pada 2024 sebanyak 289, pada 2025 sebanyak 273, dan pada Januari hingga April 2026 sebanyak 44 penutupan. Secara keseluruhan terdapat 3.674 perlintasan sebidang dan 1.810 perlintasan menjadi perhatian KAI.

Anne mengatakan dari 1.810 perlintasan, sebanyak 172 akan ditata dan ditutup karena kondisi jalan terbatas, sementara 1.638 perlintasan lainnya diprioritaskan untuk peningkatan fasilitas keselamatan. KAI akan menambah fasilitas sirine, lampu peringatan, kamera Closed-Circuit Television (CCTV), panic button, pengamanan, dan koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah.

Advertisements

KAI mencatat 80 persen kejadian di perlintasan sebidang terjadi pada titik yang tidak terjaga. Pada periode 2023 hingga 2026, terdapat 948 korban dalam berbagai kejadian. Faktor terbesar dipicu perilaku menerobos, tidak berhenti, maupun kurang memperhatikan kondisi sekitar sebelum melintas.

Padahal, kata Anne, kereta api berjalan di jalurnya dan memerlukan ruang aman dalam setiap perjalanan. “Karena itu, pengguna jalan perlu berhenti terlebih dahulu, tengok kanan kiri, lalu memastikan kondisi benar-benar aman sebelum melintas,” tuturnya.

Anne menyampaikan, budaya tertib di perlintasan sebidang akan memberi dampak besar terhadap keselamatan perjalanan masyarakat setiap hari. Ini juga memengaruhi keselamatan ratusan hingga ribuan penumpang yang berada di dalam gerbong kereta api.

Pilihan Editor: Katanya Konsumsi Naik, tapi Indeks Keyakinan Konsumen Turun

Advertisements