Di manakah waktu terjadinya cerita itu?

Kenangan dari Guru Matematika

Bel masuk berbunyi. Semua bergegas menuju kelas masing-masing. Halaman sekolah yang tadi ramai, mendadak menjadi sepi. Kini, semua anak telah masuk ruang kelas. Beberapa tampak langsung duduk di bangku masing-masing. Namun, ada juga yang bergerombol melanjutkan cerita mereka yang belum usai, sebelum guru datang. Aku sendiri asyik membaca buku novel petualangan yang beberapa hari yang lalu aku pinjam dari perpustakaan. Hari ini jadwalku mengembalikan buku itu. Tapi, masih beberapa Iembar tersisa. Mumpung ada waktu luang, kusempatkan menuntaskan membaca novel itu.

Sepuluh menit berlalu. Rio yang berdiri di dekat pintu mengamati suasana, tiba-tiba berteriak. “Pak Usman datang .. .! Pak Usman datang .. .!” Suasana kembali gaduh. Masing-masing saling dorong untuk bisa duduk di bangku mereka. Pak Usman masuk kelas sambil membawa setumpukkoran. Beberapa murid tampak saling memandang dan berbisik, Untuk apa sih, Pak Usman bawa koran?

“Selamat pagi, Anak-Anak!” Pa k Usman memecah keheningan kelas sambil meletakkan tas dan koran-koran itu di atas meja guru. “Selamat pagi, Pak!” jawab murid-murid serentak. Pandanga n Pak Usman menyapu seluruh sudut kelas. Tak ada satu pun yang luput dari perhatiannya. Setelah memastikan tidak ada siswa yang absen, beliau segera mengambil tumpukan koran yang tadi diletakkan nya di atas meja. Kemudian, beliau membagikan satu per satu koran-koran tersebut di setiap meja. Tidak ada yang gaduh. Suasana tetap tenang. “Bagi yang tidak mendapatkan, mohon bergabung dengan temannya” begitulah perintah Pak Usman setelah membagikan semua koran tersebut. “Bapak beri waktu sekitar 10 menit, silakan kalian baca salah satu berita atau artikel pada koran tersebut!”

Aku tidak tahu apa maksud Pak Usman, pada hal pelajaran mesti nya Matematika, tapi kenapa beliau memerintahkan untuk membaca koran. Tetapi, tida k satu pun ya ng berani memba ntah. Semua menerima koran yang dibagikan Pa k Usman kemudian masing-masing serius membaca Iembar demi lembar mencari berita. Pikiran mereka hampir sama, janganjangan, Pak Usman akan mengajukan pertanyaan tentang isi berita di koran itu.

“Apakah kalian sudah selesai membaca?” tanya Pak Usman memecah keheningan. “Sudah, Pak!” jawab murid-murid dengan kompak. “Baiklah, ka lau sudah, silakan kalian lipat kembali koran itu, letakkan di samping meja. Kita akan memulai pelajaran hari ini. “Semua yang memegang koran langsung mengemasi korannya dan meletakkan di meja masingmasing. Semua diam dan penuh tanda tanya, apa yang akan disampaikan Pak Usman selanjutnya.
“Semua sudah siap menerima pelajaran hari ini?”
“Siap, Pak!” semua menjawab dengan kompak.
“Tolong buka buku Matematika kalian, ya itu tentang konsep himpunan”

Semua murid patuh pada perintah Pak Usman. Meskipun sebelumnya mereka dipenuhi tanda tanya tentang koran-koran yang dibagikan Pak Usman, tapi kemudian mereka fokus lagi pada pelajaran utama Matematika. “Sebelum kita mulai pelajaran tentang himpu nan, ada yang ingin bertanya?” Pa k Usman menatap satu per satu murid-muridnya. “Kalian tahu, kenapa tadi Bapak membagikan korankoran itu kepada kalian?” lanjut Pa k Usman. Refleks, aku mengangkat tanganku.
“Ya, Sinta”
“Agar kami semua membaca koran itu, Pak” jawabku.

Sontak semua ternan meneriakiku dengan kor “huuu” yang pa njang. “Ya, iyalah. Masak koran u ntu k dipakai alas tidur!”teriak Bono di barisan ku rsi pa ling belakang.

Uh, malu rasanya. “Baiklah, terima kasih Sinta. Anak-Anak, apa yang dikatakan Sinta memang tidak salah. Tadi, Bapak memang menyuruh kalian membaca koran itu. Tetapi, sebena rnya maksud Bapak bukan sekadar meminta kalian untuk membaca, melainkan agar ka lian lebih fokus dan konsentrasi” Pak Usman memberi penjelasan. “Bapak yakin, sebelum Bapak datang, kalian banyak yang ngobrol. Kalian mungkin ada yang belum siap mengikuti pelajaran. Dengan meminta kalian membaca koran, Bapak berharap kalian menjadi fokus dan siap u ntuk mengikuti pelajaran inti kita, pelajaran Matemati ka. “Semua murid mengangguk-angguk seolah paham dengan penjelasan Pak Usman. Aku sendiri merasa salut dengan usaha Pak Usman untuk membuat murid-mu ridnya berkonsentrasi. Harus diakui bahwa pelajaran Matematika masih menjadi “momok” bagi sebagian besar murid. Jadi, agar mudah menyampaikan materi, diperlukan konsentrasi. Pak Usman, ada saja, batinku sambil tersenyum.

lnilah kenangan ku tentang Pak Usman yang pertama kali, salah satu guru yang aku temui selama aku menimba ilmu di sekolah. Menena ngkan dan membuat anak agar mudah untuk berkonsentrasi sebelum menghadapi suatu pelajaran.
Sumber: Kenangan dari Guruku, Sukimin, Jakarta: Pustaka Batavia

Di manakah waktu terjadinya cerita itu?

Jawaban :

Di ruang kelas ketika pagi hari.

Pembahasan :

Cerpen atau cerita pendek adalah kisah yang menceritakan suatu peristiwa secara singkat atau pendek. Panjang cerpen tidak lebih dari 10.000 kata karena cerpen hanya memusatkan cerita pada satu tokoh, satu peristiwa, dan satu permasalahan saja.

Salah satu unsur intrinsik dalam cerpen adalah latar. Latar menggambarkan tempat, waktu, dan suasana.

Berdasarkan pemaparan di atas, latar pada cerita tersebut terjadi di ruang kelas ketika pagi hari. Hal ini dibuktikan dengan kutipan yang berbunyi “Selamat pagi, Anak-Anak!” Pak Usman memecah keheningan kelas sambil meletakkan tas dan koran-koran itu di atas meja guru.

Dengan demikian, waktu terjadinya cerita itu adalah di ruang kelas ketika pagi hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.